Adaptasi Tubuh Pasca Pemasangan Stent Jantung: Mengapa Pasien Masih Merasa Lelah?

Pemasangan stent atau percutaneous coronary intervention (PCI) merupakan salah satu terapi utama pada penyakit jantung koroner (PJK). Banyak pasien berharap setelah prosedur ini kondisi tubuh akan segera kembali normal. Namun dalam praktik klinis, keluhan seperti cepat lelah, stamina menurun, atau tubuh terasa “belum fit” masih sering dilaporkan dalam beberapa minggu hingga bulan pertama pasca tindakan.

Fenomena ini bukan selalu pertanda kegagalan prosedur, melainkan bagian dari proses adaptasi fisiologis dan pemulihan kardiovaskular. Artikel ini membahas secara komprehensif mekanisme, faktor yang memengaruhi, serta tanda bahaya yang perlu diwaspadai berdasarkan evidence terkini.

Penyakit jantung koroner tetap menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia (World Health Organization, 2023). Terapi PCI dengan pemasangan stent terbukti efektif memperbaiki aliran darah koroner, mengurangi gejala angina, dan meningkatkan kualitas hidup (Neumann et al., 2019).

Namun, studi menunjukkan bahwa sebagian pasien masih mengalami gejala residu seperti kelelahan, penurunan kapasitas fungsional, atau ketidaknyamanan dada ringan meskipun revaskularisasi berhasil (Arnold et al., 2013). Edukasi yang tidak memadai dapat menimbulkan kecemasan, ketidakpatuhan terapi, bahkan kunjungan ulang yang tidak perlu.

Karena itu, pemahaman yang tepat mengenai fase adaptasi pasca-stent menjadi penting baik bagi tenaga kesehatan maupun pasien.

Apa itu Stent Jantung?

Stent jantung adalah tabung logam kecil berbentuk jaring yang dipasang di arteri koroner untuk menjaga pembuluh tetap terbuka setelah dilakukan angioplasti balon. Saat ini, mayoritas prosedur menggunakan drug-eluting stent (DES) yang melepaskan obat antiproliferatif untuk menurunkan risiko restenosis (Knuuti et al., 2020).

Tujuan utama PCI:

  • Memulihkan aliran darah koroner.
  • Mengurangi gejala angina.
  • Mencegah kerusakan miokard lebih lanjut (terutama pada sindrom koroner akut).

Namun, PCI tidak “menyembuhkan” aterosklerosis secara menyeluruh. Penyakit sistemik tetap ada dan membutuhkan manajemen komprehensif.

Mengapa Pasien Masih Cepat Lelah

Beberapa mekanisme fisiologis dan klinis yang menjelaskan kelelahan pasca-PCI antara lain:

1. Remodeling dan Pemulihan Miokard

Jika sebelumnya terjadi iskemia kronis atau infark miokard, otot jantung mengalami gangguan kontraktilitas. Setelah aliran darah membaik, proses reverse remodeling dan pemulihan fungsi ventrikel membutuhkan waktu (Yancy et al., 2022).

Miokard yang “hibernating” tidak langsung kembali optimal dalam hitungan hari.

2. Respons Inflamasi dan Cedera Prosedural

PCI menimbulkan cedera lokal pada endotel pembuluh darah. Proses inflamasi dan penyembuhan vaskular dapat berlangsung beberapa minggu (Knuuti et al., 2020). Ini bisa berkontribusi pada rasa tidak nyaman atau fatigue ringan.

3. Deconditioning Fisik

Banyak pasien mengurangi aktivitas sebelum dan sesudah prosedur karena takut kambuh. Kurangnya aktivitas menyebabkan penurunan kapasitas aerobik dan kekuatan otot (cardiorespiratory deconditioning), yang berkontribusi pada rasa cepat lelah.

Program rehabilitasi jantung terbukti meningkatkan kapasitas fungsional dan kualitas hidup secara signifikan (Anderson et al., 2016).

4. Efek Obat Kardiovaskular

Terapi pasca-stent biasanya meliputi:

  • Beta-blocker
  • ACE inhibitor/ARB
  • Statin
  • Dual antiplatelet therapy (DAPT)

Beta-blocker dapat menurunkan denyut jantung dan menyebabkan rasa lelah pada sebagian pasien (Yancy et al., 2022).

5. Faktor Psikologis

Kecemasan pasca-kejadian kardiovaskular cukup tinggi. Depresi dan anxiety diketahui berhubungan dengan persepsi fatigue yang lebih berat serta pemulihan yang lebih lambat (Lichtman et al., 2014).

6. Perubahan Pola Hidup (Termasuk Saat Ramadan)

Perubahan pola tidur, asupan cairan, dan ritme sirkadian—misalnya saat bulan Ramadan—dapat memengaruhi metabolisme energi dan tekanan darah. Pada pasien kardiovaskular, adaptasi ini bisa terasa lebih signifikan dibanding populasi sehat.

Keunggulan dan Keterbatasan PCI

Keunggulan

  • Revaskularisasi cepat dan minimal invasif.
  • Mengurangi gejala angina secara signifikan.
  • Menurunkan mortalitas pada sindrom koroner akut (Neumann et al., 2019).
  • Rawat inap relatif singkat.

Keterbatasan

  • Tidak menghilangkan aterosklerosis sistemik.
  • Risiko restenosis atau trombosis stent (meski rendah pada DES modern).
  • Membutuhkan kepatuhan tinggi terhadap DAPT.
  • Tidak selalu mengembalikan kapasitas fungsional secara instan.

Perbandingan dengan Terapi Lain

AspekPCI (Stent)Terapi Medis Optimal (OMT)CABG
InvasivitasMinimal invasifNon-invasifBedah mayor
Perbaikan gejalaCepatBertahapCepat
Indikasi utamaLesi signifikan, ACSStabil, risiko rendahPenyakit multivessel kompleks
Waktu pemulihanRelatif cepatTidak ada prosedurLebih lama

Pada penyakit jantung koroner stabil, studi menunjukkan bahwa PCI tidak selalu menurunkan mortalitas dibanding terapi medis optimal, tetapi lebih efektif dalam mengurangi gejala angina (Boden et al., 2007; Maron et al., 2020).

Tanda Bahaya yang Harus Diwaspadai

Meskipun kelelahan ringan dapat merupakan bagian dari adaptasi, pasien harus segera berkonsultasi jika muncul:

  • Nyeri dada hebat menjalar ke lengan kiri/rahang.
  • Sesak napas progresif.
  • Pusing berat atau sinkop.
  • Palpitasi signifikan.
  • Keringat dingin mendadak.

Gejala tersebut dapat mengindikasikan sindrom koroner akut berulang atau komplikasi lain.

Peran Rehabilitasi Jantung

Rehabilitasi jantung berbasis latihan terbukti:

  • Meningkatkan VO₂ max.
  • Menurunkan mortalitas kardiovaskular.
  • Memperbaiki kualitas hidup (Anderson et al., 2016).

Program ideal mencakup:

  • Latihan aerobik terstruktur.
  • Edukasi nutrisi.
  • Manajemen stres.
  • Optimalisasi faktor risiko (diabetes, hipertensi, dislipidemia).

Kesimpulan

Kelelahan dan stamina yang belum optimal setelah pemasangan stent jantung merupakan fenomena yang sering terjadi dan umumnya merupakan bagian dari proses adaptasi fisiologis. Meskipun aliran darah koroner telah membaik, pemulihan miokard, efek obat, deconditioning fisik, serta faktor psikologis berperan signifikan dalam fase pemulihan.

PCI adalah terapi efektif untuk memperbaiki perfusi dan mengurangi gejala, namun bukan solusi instan yang mengembalikan kondisi tubuh secara langsung seperti sebelum sakit. Edukasi pasien, kepatuhan terapi, serta partisipasi dalam rehabilitasi jantung merupakan kunci pemulihan optimal.

Kewaspadaan tetap diperlukan terhadap gejala khas sindrom koroner akut, karena tidak semua keluhan pasca-PCI dapat dianggap sebagai proses adaptasi normal.

Referensi

Anderson, L., et al. (2016). Exercise-based cardiac rehabilitation for coronary heart disease. Journal of the American College of Cardiology, 67(1), 1–12.

Arnold, S. V., et al. (2013). Health status after percutaneous coronary intervention in patients with coronary artery disease. Circulation, 127(3), 345–353.

Boden, W. E., et al. (2007). Optimal medical therapy with or without PCI for stable coronary disease. New England Journal of Medicine, 356(15), 1503–1516.

Knuuti, J., et al. (2020). 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of chronic coronary syndromes. European Heart Journal, 41(3), 407–477.

Lichtman, J. H., et al. (2014). Depression and coronary heart disease. Circulation, 129(12), 1350–1369.

Maron, D. J., et al. (2020). Initial invasive or conservative strategy for stable coronary disease. New England Journal of Medicine, 382(15), 1395–1407.

Neumann, F. J., et al. (2019). 2018 ESC/EACTS Guidelines on myocardial revascularization. European Heart Journal, 40(2), 87–165.

World Health Organization. (2023). Cardiovascular diseases (CVDs) fact sheet.

Yancy, C. W., et al. (2022). 2022 AHA/ACC/HFSA guideline for the management of heart failure. Circulation, 145(18), e895–e1032.

Scroll to Top