Dunia sepak bola kembali dikejutkan dengan insiden yang menimpa gelandang serang, Christian Eriksen. Pada pertandingan persahabatan internasional antara Denmark versus Ukraina yang berlangsung pada 7 Juni 2026, Eriksen kembali kolaps di tengah lapangan. Sebelum terjatuh, ia terlihat memegang area dada dan langsung mendapatkan pertolongan medis darurat.
Bagi para penggemar sepak bola, kejadian ini seketika memutar kembali ingatan pada momen mengerikan di Euro 2020 (yang digelar pada 2021) di Copenhagen. Saat itu, Eriksen mengalami henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest) dan berhasil diselamatkan berkat Resusitasi Jantung Paru (CPR) yang cepat. Pasca-kejadian tersebut, tim medis memutuskan untuk menanamkan alat Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) atau AICD di dalam dada sang pemain.
Kabar baiknya, melalui akun media sosial pribadinya, Eriksen mengonfirmasi bahwa kondisinya pada insiden 2026 ini berbeda. Ia menjelaskan bahwa alat AICD yang terpasang di tubuhnya bekerja dengan sempurna sesuai fungsinya untuk melindungi jantungnya saat terjadi anomali. Kisah ini menjadi bukti nyata betapa krusialnya teknologi intervensi kardiovaskular dalam mengelola risiko gangguan irama jantung yang mengancam jiwa.
Apa Itu Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD)?
Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) atau sering juga disebut AICD (Automated Implantable Cardioverter Defibrillator) adalah perangkat medis elektronik berukuran kecil yang ditanam di bawah kulit dada, tepat di bawah tulang selangka. Alat ini terhubung ke jantung melalui kabel tipis yang disebut lead.
Fungsi utama dari ICD adalah sebagai pemantau irama jantung 24 jam non-stop. Jika alat ini mendeteksi adanya gangguan irama jantung (aritmia) yang berbahaya—seperti Takikardia Ventrikel (detak jantung sangat cepat) atau Fibrilasi Ventrikel (detak jantung kacau tak beraturan) yang dapat menyebabkan henti jantung—alat ini akan secara otomatis memberikan terapi kejut listrik (defibrilasi) untuk mengembalikan ritme denyut jantung ke kondisi normal.
Berdasarkan panduan dari American Heart Association (AHA), perangkat ICD terbukti secara klinis sebagai salah satu terapi pencegahan paling efektif bagi pasien yang berisiko tinggi mengalami kematian jantung mendadak.
Perbedaan Memakai ICD dan Alat Pacu Jantung Konvensional (Pacemaker)
Banyak orang awam yang masih menyamakan ICD dengan Pacemaker (alat pacu jantung). Meskipun keduanya ditanam di dalam dada dan berhubungan dengan kelistrikan jantung, fungsinya memiliki perbedaan yang sangat mendasar.
Berikut adalah tabel perbandingan untuk memudahkan pemahaman:
| Fitur / Karakteristik | Pacemaker (Alat Pacu Jantung) | Implantable Cardioverter Defibrillator (ICD) |
| Fungsi Utama | Mengatasi detak jantung yang terlalu lambat (Bradikardia). | Mengatasi detak jantung yang sangat cepat dan mengancam nyawa (Takikardia/Fibrilasi). |
| Mekanisme Kerja | Memberikan sinyal listrik bertegangan rendah secara konstan agar jantung berdetak di kecepatan normal. | Memantau irama; memberikan kejut listrik bertegangan tinggi (defibrilasi) hanya saat terjadi aritmia fatal. |
| Fungsi Ganda | Hanya berfungsi sebagai pemacu (pacing). | Kebanyakan ICD modern juga memiliki fungsi Pacemaker internal untuk mengatasi denyut lambat. |
| Indikasi Klinis | Pasien dengan Sick Sinus Syndrome atau Heart Block. | Pasien dengan riwayat henti jantung, gagal jantung kongestif, atau risiko aritmia ventrikel. |
Siapa Saja yang Membutuhkan Pemasangan ICD?
Penting untuk dipahami bahwa terapi ICD bukan ditujukan untuk semua pasien penyakit jantung. Pemasangan alat ini memerlukan evaluasi medis yang sangat komprehensif oleh dokter spesialis jantung, khususnya konsultan aritmia (elektrofisiologis).
Merujuk pada konsensus medis dari European Society of Cardiology (ESC), beberapa kondisi klinis yang membuat seorang pasien masuk dalam kriteria penerima terapi ICD meliputi:
- Penyintas Henti Jantung: Pasien yang pernah mengalami dan selamat dari insiden henti jantung mendadak sebelumnya (seperti kasus Christian Eriksen).
- Gagal Jantung (Heart Failure): Pasien dengan kondisi gagal jantung di mana pompa jantung melemah secara signifikan (biasanya ditandai dengan nilai Ejection Fraction atau fraksi ejeksi di bawah 35%).
- Riwayat Aritmia Ventrikel: Pasien yang sering mengalami episode detak jantung tidak beraturan yang bersumber dari bilik bawah jantung (ventrikel).
- Kondisi Genetik Tertentu: Pasien dengan kelainan bawaan yang memengaruhi sistem kelistrikan jantung, seperti Brugada Syndrome atau Long QT Syndrome.
Mengapa Deteksi Dini Sangat Penting?
Kasus Christian Eriksen menjadi pengingat keras bahwa gangguan irama jantung dapat menyerang siapa saja—bahkan seorang atlet profesional dengan gaya hidup yang sangat sehat dan kebugaran fisik yang luar biasa. Kejadian ini sering kali muncul tanpa gejala pendahuluan yang jelas.
Jika seseorang yang Anda kenal tiba-tiba kolaps, tidak sadarkan diri, dan tidak bernapas secara normal, itu adalah kondisi darurat henti jantung. Tindakan resusitasi (CPR) segera dan penggunaan AED (Automated External Defibrillator) publik adalah pertolongan pertama yang harus dilakukan sebelum tim medis tiba.
Namun, untuk pencegahan jangka panjang, terutama jika Anda sering merasakan gejala seperti jantung berdebar kencang tanpa sebab (palpitasi), pusing yang hampir membuat pingsan, atau memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung mendadak, pemeriksaan medis adalah langkah preventif terbaik. Pemeriksaan rekam jantung (EKG) atau pemantauan Holter dapat mendeteksi anomali kelistrikan sejak dini.
Kesehatan pembuluh darah dan irama jantung tidak bisa dianggap remeh. Evaluasi kardiovaskular secara berkala dapat membantu menentukan stratifikasi risiko dan strategi intervensi yang paling tepat, baik itu terapi obat-obatan, ablasi, maupun implantasi device seperti ICD.
Jika Anda atau keluarga butuh Konsultasi jantung:
Jangan tunggu hingga terjadi kondisi darurat. Dapatkan evaluasi menyeluruh dan penanganan dengan teknologi intervensi medis terkini bersama tim spesialis kami.
📞 Hubungi kami: +62 851 9003 7699








