Kasus henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Death) sering kali datang tanpa peringatan. Banyak yang mengira kondisi fatal ini selalu didahului oleh gaya hidup tidak sehat atau usia tua. Padahal, pada beberapa kasus, henti jantung bisa menyerang individu yang tampak sehat, bahkan pada usia muda, akibat kelainan genetik bawaan.
Salah satu kelainan irama jantung genetik yang paling penting dan patut diwaspadai adalah Sindrom Brugada.
Dalam sebuah diskusi medis bersama pakar kardiologi internasional dan nasional—dr. Georgia Sarquella Brugada (SJD Barcelona Children’s Hospital) dan dr. Oktavia Lilyasari, SpJP(K) (RS Harapan Kita Jakarta), dipandu oleh dr. Putu Diah Pratiwi, Sp.A (RS JIH Yogyakarta)—terungkap fakta penting mengenai seberapa krusial kelainan ini dan bagaimana gambarannya di Indonesia.
Mengapa Sindrom Brugada Sangat Berbahaya?
Menurut dr. Georgia Sarquella Brugada, henti jantung mendadak dapat dipicu oleh banyak penyakit. Secara umum, penyakit pemicu ini terbagi menjadi dua kategori utama:
- Penyakit yang Didapat (Acquired): Seperti aterosklerosis (penyumbatan pembuluh darah koroner akibat penumpukan plak) dan penyakit degeneratif lainnya. Ini adalah penyebab paling umum pada orang dewasa.
- Penyakit Genetik/Bawaan (Inherited): Penyakit yang berhubungan dengan struktur kelistrikan jantung (Channelopathies) atau bentuk kelainan otot jantung (Cardiomyopathies). Sindrom Brugada masuk dalam kategori ini.
Sindrom Brugada secara spesifik memengaruhi sistem kelistrikan jantung, memicu irama jantung yang tidak beraturan (aritmia) dan sangat cepat di bilik bawah jantung. Kondisi inilah yang memicu henti jantung mendadak.
Perbandingan Penyebab Henti Jantung Mendadak
| Karakteristik | Henti Jantung karena Penyakit Didapat (Contoh: Penyakit Jantung Koroner) | Henti Jantung karena Penyakit Genetik (Contoh: Sindrom Brugada) |
| Penyebab Utama | Penyumbatan aliran darah (aterosklerosis/plak kolesterol). | Kelainan sistem kelistrikan jantung (channelopathy). |
| Faktor Risiko Utama | Gaya hidup, merokok, obesitas, diabetes, hipertensi. | Riwayat genetik atau mutasi DNA (de novo). |
| Usia Rentan | Umumnya dewasa paruh baya hingga lansia. | Bisa terjadi di segala usia, termasuk anak-anak dan dewasa muda. |
| Gejala Awal | Sering didahului nyeri dada, sesak napas, atau mudah lelah. | Sering kali tanpa gejala sama sekali, tiba-tiba pingsan atau henti jantung. |
Sindrom Brugada pada Anak-Anak dan Bayi di Dalam Kandungan
Meski Sindrom Brugada jauh lebih umum ditemukan pada orang dewasa ketimbang anak-anak, dr. Georgia Sarquella Brugada menyoroti sebuah fakta medis yang krusial.
Terdapat bentuk penyakit Sindrom Brugada yang sangat parah (severe forms) di mana gejalanya muncul sangat awal dalam kehidupan. Pada kasus yang sangat ekstrem, kelainan irama jantung (aritmia) bahkan sudah dapat terdeteksi sejak masa janin (di dalam kandungan).
Kasus-kasus ini biasanya merupakan kasus de novo, artinya mutasi genetik terjadi secara baru pada anak tersebut, tanpa adanya riwayat keluarga sebelumnya. Kasus de novo yang muncul sejak usia dini ini termasuk dalam kategori kasus medis yang sangat berat dan membutuhkan penanganan kardiologi anak yang intensif.
Bagaimana Prevalensi Sindrom Brugada di Indonesia?
Apakah penyakit ini hanya terjadi di luar negeri? Jawabannya adalah tidak.
Menurut dr. Oktavia Lilyasari, SpJP(K), Sindrom Brugada adalah masalah kesehatan global yang juga umum ditemukan di Indonesia. Prevalensi kasus kelainan kelistrikan jantung dan risiko henti jantung genetik di tingkat global berkisar antara 8 hingga 10 kasus per 1.000 populasi, dan Indonesia tidak terkecuali dari statistik risiko penyebaran genetik ini.
Karena sifatnya yang sering “diam” tanpa gejala klinis yang terlihat sebelum serangan pertama terjadi, screening jantung (seperti EKG atau rekam kelistrikan jantung) menjadi salah satu langkah pencegahan terbaik, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga meninggal mendadak di usia muda.
Jangan Tunggu Gejala Muncul. Evaluasi Kesehatan Jantung Anda Sekarang!
Henti jantung mendadak bisa dihindari jika deteksi dini kelistrikan jantung dan evaluasi genetik dilakukan tepat waktu. Jika Anda sering mengalami pingsan tanpa sebab, memiliki riwayat detak jantung tidak beraturan, atau memiliki anggota keluarga yang meninggal mendadak akibat serangan jantung di usia muda, segera lakukan pemeriksaan medis.
Butuh konsultasi dengan dokter spesialis jantung kami?
Tim CardiaCare siap membantu mendiagnosis kondisi ritme dan kelistrikan jantung Anda secara komprehensif.
📞 Telepon/WhatsApp: 0895 4141 55908
Referensi:
- American Heart Association (AHA). Brugada Syndrome.
- World Health Organization (WHO). Cardiovascular diseases (CVDs).
- Brugada R, Campuzano O, Sarquella-Brugada G, et al. Brugada Syndrome. GeneReviews® [Internet]. Seattle (WA): University of Washington, Seattle.








