Saat ini, kesadaran masyarakat akan kesehatan semakin meningkat. Hal ini terlihat dari menjamurnya tren “pelari kalcer” (kultur lari gaya hidup) dan semakin banyaknya event lari yang diselenggarakan di berbagai kota. Sepatu lari edisi terbaru sudah siap, outfit sudah lengkap dan stylish. Namun, ada satu hal krusial yang sering kali terlupakan: kesiapan kondisi fisik, terutama jantung.
Berlari memang sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh, namun intensitas latihan dan kondisi medis tubuh tidak boleh diabaikan. Banyak pelari pemula yang memaksakan diri tanpa persiapan cukup, padahal sistem kardiovaskular memiliki batas toleransi.
Untuk menjawab kekhawatiran tersebut, dr. M. Ulil Aidie Jomansyah, Sp.JP, Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah di RS JIH Yogyakarta dan CardiaCare, membagikan panduan komprehensif agar aktivitas lari Anda tetap aman, menyehatkan, dan bebas dari risiko henti jantung.
Manfaat Lari vs Bahaya Lari Tanpa Persiapan
Lari adalah olahraga kardio yang luar biasa. Jika dilakukan dengan persiapan yang tepat, lari dapat membuat badan lebih bugar serta melindungi kita dari penyakit metabolik kronis seperti hipertensi, diabetes, dan penyakit jantung bawaan.
Sebaliknya, dr. Ulil mengingatkan bahwa memaksakan diri tanpa persiapan justru memberikan dampak buruk bagi tubuh, di antaranya:
- Keram otot yang hebat.
- Nyeri sendi.
- Jantung berdebar tidak terkontrol (aritmia).
- Nyeri dada (angina).
- Pusing hingga kehilangan kesadaran (pingsan).
5 Tips Aman Berlari Menjaga Kesehatan Jantung
Agar terhindar dari cedera fatal dan masalah jantung saat berolahraga, ikuti 5 tips aman dari dr. Ulil berikut ini:
1. Skrining Kondisi Jantung Sebelum Rutin Berlari
Sebelum Anda mendaftar maraton atau memutuskan lari jarak jauh secara rutin, sebaiknya periksakan kondisi jantung ke dokter. Langkah ini sangat diwajibkan bagi individu yang memiliki riwayat hipertensi, diabetes, atau pernah mengalami keluhan rasa tidak nyaman di dada.
2. Pemanasan (Warm-Up) dan Stretching
Jangan pernah langsung berlari! Lakukan pemanasan dan peregangan selama 5-10 menit. Ini berfungsi untuk mempersiapkan sistem kardiovaskular Anda dengan meningkatkan aliran darah ke otot, sehingga otot dan sendi jauh lebih nyaman serta siap untuk diajak berlari.
3. Tingkatkan Latihan Secara Bertahap
Lakukan latihan secara rutin namun bertahap (progressive overload). Jangan langsung menargetkan jarak 10K jika Anda baru terbiasa 3K. Tingkatkan frekuensi latihan dan jarak tempuh sedikit demi sedikit. Latihan adaptasi ini sangat vital, terutama jika Anda berencana mengikuti event lari besar.
4. Pantau Zona Denyut Jantung (Heart Rate)
Kunci dari lari yang sehat adalah tidak melewati batas maksimal kerja jantung. Anda bisa menggunakan smartwatch untuk memantau hal ini:
- Zona Aman (Pemula/Rekreasional): Berlarilah pada rentang 70-80% dari denyut jantung maksimal (Max HR).
- Zona Kebugaran (Pelari Berpengalaman): Rentang 80-90% dari Max HR sangat baik untuk meningkatkan kapasitas kebugaran kardiovaskular.
(Catatan: Cara menghitung Max HR standar adalah 220 dikurangi usia Anda).
5. Jangan Lupakan Pendinginan (Cool-Down)
Setelah mencapai garis finish, jangan langsung duduk. Lakukan pendinginan dengan berjalan kaki santai selama 10-15 menit. Hal ini krusial untuk memastikan denyut jantung turun secara perlahan serta merelaksasi otot dan sendi agar terhindar dari kaku dan keram akut.
Tabel Panduan Target Denyut Jantung Saat Berlari
Untuk memudahkan Anda mengaplikasikan tips dari dr. Ulil, berikut adalah estimasi target denyut jantung aman berdasarkan usia yang merujuk pada standar kardiologi olahraga:
| Usia | Estimasi Max HR (BPM) | Zona Aman Lari (70-80%) | Zona Pelari Terlatih (80-90%) |
| 20 Tahun | 200 bpm | 140 – 160 bpm | 160 – 180 bpm |
| 30 Tahun | 190 bpm | 133 – 152 bpm | 152 – 171 bpm |
| 40 Tahun | 180 bpm | 126 – 144 bpm | 144 – 162 bpm |
| 50 Tahun | 170 bpm | 119 – 136 bpm | 136 – 153 bpm |
| 60 Tahun | 160 bpm | 112 – 128 bpm | 128 – 144 bpm |
Referensi medis mengenai Target Heart Rate di atas sejalan dengan panduan dari American Heart Association (AHA).
Kapan Anda Harus Berhenti Berlari?
Olahraga memang baik, tapi Anda harus mendengarkan alarm tubuh Anda. Segera hentikan aktivitas lari Anda jika merasakan hal berikut:
- Keram otot yang sangat hebat.
- Nyeri sendi yang tidak membaik meskipun Anda sudah menurunkan pace menjadi berjalan.
- Rasa tidak nyaman di dada, seperti ditekan atau diremas.
- Jantung berdebar dengan sangat cepat namun tidak teratur (seperti melompat).
Menurut rekomendasi aktivitas fisik dari World Health Organization (WHO), olahraga intensitas tinggi tetap harus dibarengi dengan kesadaran penuh akan respons tubuh (mendengarkan sinyal tubuh).
Kesimpulan
Sobat JIH dan runners, lari adalah investasi jangka panjang untuk tubuh dan kesehatan jantung, asalkan dilakukan dengan persiapan dan cara yang benar. Jangan sekadar ikut tren tanpa membekali diri dengan pemahaman batas fisik Anda.
Jika Anda memiliki keluhan saat berolahraga seperti dada sesak, jantung berdebar tak wajar, atau mudah lelah, jangan ragu untuk melakukan pemeriksaan mendalam.
Konsultasi Jantung & Pembuluh Darah Terpadu:
Dapatkan skrining kesiapan jantung Anda sebelum berolahraga intens bersama tim spesialis kami.
📞 Telepon/WhatsApp: +62 851 9003 7699
🔗 Kunjungi Kami: www.cardiacare.id








