Bulan Ramadan merupakan periode di mana jutaan umat Muslim menjalankan ibadah puasa selama sekitar 12β14 jam setiap hari. Pada individu sehat, puasa umumnya aman dan bahkan dapat memberikan manfaat metabolik seperti perbaikan sensitivitas insulin dan profil lipid (Kul et al., 2014). Namun pada sebagian orang, terutama mereka yang memiliki riwayat penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular, munculnya keluhan seperti nyeri dada saat puasa tidak boleh dianggap ringan.
Dalam praktik klinis, keluhan nyeri dada sering kali disalahartikan sebagai masuk angin, gangguan lambung, atau kelelahan. Padahal dalam beberapa kasus, nyeri tersebut dapat menjadi tanda awal sindrom koroner akut, suatu kondisi darurat medis yang membutuhkan penanganan segera (Ibanez et al., 2018).
Artikel ini membahas secara ilmiah mengenai hubungan antara nyeri dada, puasa, dan risiko penyakit jantung, serta kapan seseorang perlu segera mencari pertolongan medis.
Nyeri Dada dan Sindrom Koroner Akut
Nyeri dada (chest pain) adalah sensasi tidak nyaman yang muncul di area dada dan dapat berasal dari berbagai sistem tubuh, termasuk:
- jantung
- paru-paru
- otot dada
- saluran pencernaan
- saraf
Dalam konteks kardiologi, nyeri dada yang paling penting untuk dikenali adalah angina pectoris, yaitu nyeri akibat berkurangnya aliran darah ke otot jantung (iskemia miokard) (Knuuti et al., 2020).
Jika aliran darah tersebut terhenti secara tiba-tiba akibat penyumbatan pembuluh darah koroner, kondisi ini dapat berkembang menjadi serangan jantung (infark miokard).
Secara klinis, nyeri dada yang berkaitan dengan jantung biasanya memiliki karakteristik berikut:
- terasa tertekan atau berat di dada
- sering digambarkan seperti ditimpa benda berat
- dapat menjalar ke lengan kiri, rahang, leher, atau punggung
- berlangsung beberapa menit atau lebih
- sering disertai gejala lain seperti sesak napas atau keringat dingin.
Gejala Nyeri Dada yang Perlu Diwaspadai Saat Puasa
Tidak semua nyeri dada merupakan serangan jantung. Namun terdapat beberapa tanda yang harus dianggap sebagai red flag medis.
Gejala yang perlu diwaspadai antara lain:
- nyeri dada hebat atau rasa tertekan di dada
- nyeri menjalar ke lengan kiri
- nyeri menjalar ke rahang atau punggung
- sesak napas
- keringat dingin
- pusing atau hampir pingsan
Jika gejala tersebut muncul saat menjalankan puasa, puasa sebaiknya segera dibatalkan dan pasien harus mencari pertolongan medis.
Prinsip dalam kardiologi darurat adalah βtime is muscleβ, yang berarti semakin cepat aliran darah ke jantung dipulihkan, semakin besar peluang jaringan jantung dapat diselamatkan (Ibanez et al., 2018).
Mengapa Nyeri Dada Bisa Muncul Saat Puasa?
Puasa pada dasarnya merupakan kondisi fisiologis yang memicu beberapa perubahan metabolik dalam tubuh. Pada individu sehat, perubahan ini biasanya dapat ditoleransi dengan baik. Namun pada pasien dengan penyakit jantung, perubahan tersebut dapat memicu keluhan tertentu.
1. Perubahan Metabolisme Energi
Selama puasa, tubuh beralih dari penggunaan glukosa ke metabolisme lemak sebagai sumber energi utama. Proses ini dapat memengaruhi:
- kadar gula darah
- keseimbangan elektrolit
- tekanan darah
Pada pasien dengan penyakit kardiovaskular, perubahan ini dapat memicu ketidakseimbangan metabolik sementara.
2. Dehidrasi dan Penurunan Volume Plasma
Puasa yang berlangsung lama, terutama di daerah dengan suhu panas, dapat menyebabkan penurunan asupan cairan.
Dehidrasi ringan dapat menyebabkan:
- peningkatan kekentalan darah
- peningkatan beban kerja jantung
- peningkatan risiko trombosis
Meskipun efek ini umumnya ringan pada orang sehat, pada pasien dengan penyempitan arteri koroner, kondisi tersebut dapat memperburuk suplai darah ke jantung (Temizhan et al., 1999).
3. Perubahan Pola Makan
Selama Ramadan, sebagian orang mengalami perubahan pola makan seperti:
- konsumsi makanan tinggi lemak saat berbuka
- makan dalam porsi besar dalam waktu singkat
- peningkatan konsumsi gula sederhana
Pola makan tersebut dapat memicu lonjakan tekanan darah dan metabolisme lipid, yang berpotensi memicu gejala angina pada individu dengan penyakit jantung koroner.
Kelompok Pasien yang Harus Lebih Waspada
Beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan jantung saat puasa.
Kelompok tersebut antara lain:
- pasien dengan penyakit jantung koroner
- pasien yang pernah menjalani pemasangan ring jantung (stent koroner)
- penderita hipertensi
- pasien dengan diabetes mellitus
- individu dengan kolesterol tinggi
- pasien dengan riwayat serangan jantung sebelumnya
Pada kelompok ini, keluhan nyeri dada tidak boleh diabaikan.
Perbedaan Nyeri Dada Jantung dan Gangguan Lambung
Banyak orang sulit membedakan nyeri dada akibat jantung dan akibat gangguan lambung seperti GERD (gastroesophageal reflux disease).
Perbandingan sederhana dapat dilihat pada tabel berikut:
| Karakteristik | Nyeri Jantung | Nyeri Lambung |
|---|---|---|
| Sensasi | Tertekan atau berat | Perih atau panas |
| Lokasi | Tengah dada | Tengah atau atas perut |
| Penjalaran | Lengan kiri, rahang, punggung | Jarang menjalar |
| Dipicu aktivitas | Sering | Tidak selalu |
| Dipengaruhi makanan | Tidak jelas | Sering setelah makan |
Namun penting diingat bahwa diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan medis.
Peran Pemeriksaan Medis dalam Evaluasi Nyeri Dada
Jika pasien mengalami nyeri dada yang mencurigakan, dokter akan melakukan evaluasi dengan beberapa metode.
Pemeriksaan yang umum dilakukan antara lain:
- Elektrokardiogram (EKG) untuk melihat aktivitas listrik jantung
- Pemeriksaan enzim jantung (troponin) untuk mendeteksi kerusakan otot jantung
- Ekokardiografi untuk menilai fungsi jantung
- CT coronary angiography atau angiografi koroner untuk menilai penyempitan pembuluh darah
Pemeriksaan ini membantu menentukan apakah nyeri dada disebabkan oleh penyakit jantung koroner atau kondisi lain.
Apakah Pasien Jantung Boleh Berpuasa?
Sebagian besar pasien jantung dapat menjalani puasa dengan aman, terutama jika kondisi penyakitnya stabil dan terkontrol dengan baik.
Namun keputusan ini harus berdasarkan evaluasi dokter.
Pasien yang umumnya perlu berhati-hati meliputi:
- pasien dengan angina tidak stabil
- pasien yang baru mengalami serangan jantung
- pasien dengan gagal jantung dekompensasi
Dalam kondisi tersebut, dokter mungkin menyarankan penundaan puasa demi keselamatan pasien.
Kesimpulan
Nyeri dada saat puasa tidak selalu berbahaya, tetapi tidak boleh diabaikan, terutama pada individu dengan riwayat penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular.
Gejala seperti:
- nyeri dada berat
- nyeri menjalar ke lengan kiri atau rahang
- sesak napas
- keringat dingin
- pusing atau pingsan
dapat menjadi tanda serangan jantung yang memerlukan penanganan medis segera.
Jika gejala tersebut muncul saat berpuasa, puasa sebaiknya segera dibatalkan dan pasien harus mencari pertolongan medis. Deteksi dan penanganan yang cepat sangat penting untuk mencegah kerusakan jantung permanen.
Menjalankan ibadah dengan aman berarti juga menjaga kesehatan jantung secara optimal.
Konsultasikan Kesehatan Jantung Anda
Jika Anda memiliki:
- riwayat penyakit jantung
- pernah menjalani pemasangan ring jantung
- hipertensi
- diabetes
- kolesterol tinggi
sebaiknya lakukan evaluasi kesehatan secara berkala.
π +62 851 9003 7699
π cardiacare.id
Tim dokter kami siap membantu memberikan konsultasi dan pemeriksaan jantung secara komprehensif.
π₯ Simak juga penjelasan dari dr. Ronaldi, Sp.JP, Subsp.KI (K), FIHA, FAPSC, dokter intervensi jantung koroner Pluit-CardiaCare.
π Follow @cardiacare.id untuk mendapatkan edukasi terpercaya seputar kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Referensi
Ibanez, B., et al. (2018). 2017 ESC Guidelines for the management of acute myocardial infarction. European Heart Journal, 39(2), 119β177.
Knuuti, J., et al. (2020). 2019 ESC Guidelines for the diagnosis and management of chronic coronary syndromes. European Heart Journal, 41(3), 407β477.
Kul, S., et al. (2014). Does Ramadan fasting alter body weight and blood lipids? Nutrition Journal, 13(1).
Temizhan, A., et al. (1999). Effects of Ramadan fasting on plasma lipid levels. American Journal of Cardiology, 83(7).
Roth, G. A., et al. (2020). Global burden of cardiovascular diseases. Journal of the American College of Cardiology, 76(25).



