Penyebab Jantung Berdebar Saat Istirahat: Apakah Ini Gejala Aritmia?

Jantung berdebar atau palpitasi merupakan keluhan yang cukup sering dialami oleh masyarakat. Banyak orang menggambarkannya sebagai sensasi jantung yang berdetak lebih cepat, lebih kuat, atau tidak teratur. Keluhan ini dapat muncul saat beraktivitas, tetapi tidak jarang juga terjadi ketika seseorang sedang beristirahat atau bahkan saat berbaring.

Meskipun sebagian besar kasus palpitasi bersifat ringan dan tidak berbahaya, kondisi ini juga dapat menjadi tanda awal gangguan irama jantung atau aritmia. Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab jantung berdebar saat istirahat, mekanisme fisiologinya, serta kapan kondisi ini memerlukan evaluasi medis lebih lanjut.

Artikel ini membahas secara komprehensif mengenai penyebab jantung berdebar saat istirahat berdasarkan bukti ilmiah, termasuk kaitannya dengan aritmia dan metode diagnostik yang digunakan dalam praktik kardiologi.

Gangguan irama jantung merupakan salah satu masalah kardiovaskular yang cukup umum. Data epidemiologi menunjukkan bahwa atrial fibrillation, salah satu bentuk aritmia yang paling sering ditemukan, memengaruhi lebih dari 33 juta orang di seluruh dunia (Chugh et al., 2014).

Keluhan palpitasi sering menjadi alasan utama seseorang berkonsultasi dengan dokter. Namun, tidak semua palpitasi disebabkan oleh penyakit jantung. Studi klinis menunjukkan bahwa sekitar 40–50% kasus palpitasi disebabkan oleh aritmia, sementara sisanya berkaitan dengan faktor psikologis, metabolik, atau gaya hidup (Zimetbaum & Josephson, 1998).

Karena gejala ini dapat menandakan kondisi serius seperti aritmia atau penyakit jantung struktural, evaluasi yang tepat sangat penting untuk mencegah komplikasi kardiovaskular.

Definisi dan Konsep Dasar

Palpitasi

Palpitasi adalah sensasi subjektif ketika seseorang merasakan denyut jantungnya secara tidak biasa, seperti:

  • Detak jantung terlalu cepat
  • Detak jantung terlalu kuat
  • Detak jantung tidak teratur
  • Sensasi “meloncat” di dada

Palpitasi dapat berlangsung beberapa detik hingga beberapa menit, dan dapat terjadi secara sporadis atau berulang.

Aritmia

Aritmia adalah gangguan pada sistem kelistrikan jantung yang menyebabkan irama jantung menjadi terlalu cepat (takikardia), terlalu lambat (bradikardia), atau tidak teratur.

Beberapa jenis aritmia yang umum meliputi:

  • Atrial fibrillation
  • Supraventricular tachycardia
  • Premature atrial contraction (PAC)
  • Premature ventricular contraction (PVC)
  • Ventricular tachycardia

Gangguan ini terjadi akibat perubahan pada sistem konduksi listrik jantung yang mengatur kontraksi otot jantung (January et al., 2019).

Mekanisme Ilmiah Jantung Berdebar

Detak jantung normal diatur oleh nodus sinoatrial (SA node) yang berada di atrium kanan. SA node berfungsi sebagai “pacemaker alami” yang menghasilkan impuls listrik secara teratur.

Impuls listrik ini kemudian menyebar melalui sistem konduksi jantung:

  1. Nodus sinoatrial (SA node)
  2. Nodus atrioventrikular (AV node)
  3. Berkas His
  4. Serabut Purkinje

Gangguan pada sistem ini dapat menyebabkan impuls listrik menjadi tidak stabil sehingga memicu aritmia.

Selain gangguan listrik jantung, faktor lain seperti aktivasi sistem saraf simpatis, perubahan hormon, atau gangguan metabolik juga dapat meningkatkan sensitivitas jantung terhadap impuls listrik sehingga menimbulkan palpitasi (Goldberger et al., 2018).

Penyebab Jantung Berdebar Saat Istirahat

Jantung berdebar saat istirahat dapat disebabkan oleh berbagai faktor, baik yang berkaitan dengan jantung maupun non-jantung.

1. Aritmia Jantung

Aritmia merupakan penyebab medis yang paling perlu diwaspadai.

Jenis aritmia yang sering menimbulkan palpitasi meliputi:

  • Atrial fibrillation
  • Premature ventricular contraction (PVC)
  • Supraventricular tachycardia

Pada kondisi ini, impuls listrik jantung menjadi tidak teratur sehingga menimbulkan sensasi jantung berdebar.

2. Stres dan Kecemasan

Aktivasi sistem saraf simpatis akibat stres atau kecemasan dapat meningkatkan pelepasan hormon seperti adrenalin dan norepinefrin.

Hormon tersebut meningkatkan:

  • Denyut jantung
  • Kontraktilitas jantung
  • Sensitivitas sistem konduksi jantung

Akibatnya, seseorang dapat merasakan palpitasi meskipun sedang beristirahat.

3. Konsumsi Kafein atau Stimulan

Zat stimulan seperti:

  • Kafein
  • Nikotin
  • Minuman energi
  • Obat dekongestan

dapat merangsang sistem saraf simpatik dan memicu peningkatan denyut jantung.

Beberapa individu memiliki sensitivitas tinggi terhadap kafein sehingga lebih mudah mengalami palpitasi.

4. Gangguan Hormon

Perubahan hormon tertentu dapat memengaruhi aktivitas listrik jantung.

Contohnya:

  • Hipertiroidisme yang meningkatkan metabolisme tubuh
  • Fluktuasi hormon selama kehamilan atau menopause

Kondisi ini dapat meningkatkan frekuensi denyut jantung bahkan saat istirahat.

5. Gangguan Elektrolit

Elektrolit seperti kalium, magnesium, dan kalsium berperan penting dalam konduksi listrik jantung.

Ketidakseimbangan elektrolit dapat mengganggu stabilitas membran sel jantung sehingga meningkatkan risiko aritmia (January et al., 2019).

Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai

Tidak semua palpitasi berbahaya. Namun, pemeriksaan medis sangat dianjurkan apabila jantung berdebar disertai gejala berikut:

  • Nyeri dada
  • Sesak napas
  • Pusing atau hampir pingsan
  • Keringat dingin
  • Detak jantung sangat cepat atau tidak teratur

Gejala tersebut dapat menandakan gangguan jantung yang lebih serius.

Pemeriksaan Medis untuk Mendiagnosis Aritmia

Dokter jantung biasanya melakukan beberapa pemeriksaan berikut untuk mengevaluasi penyebab palpitasi.

PemeriksaanFungsi
Elektrokardiogram (EKG)Merekam aktivitas listrik jantung
Holter monitorMemantau EKG selama 24–48 jam
Event recorderMendeteksi aritmia yang jarang muncul
EchocardiographyMenilai struktur dan fungsi jantung
Treadmill testMengevaluasi respons jantung terhadap aktivitas

Pemeriksaan ini membantu dokter menentukan apakah palpitasi disebabkan oleh aritmia atau faktor lain.

Keunggulan dan Keterbatasan Evaluasi Gejala

Pendekatan berbasis gejala memiliki beberapa keunggulan:

  • Membantu deteksi dini gangguan jantung
  • Memungkinkan diagnosis lebih cepat
  • Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan jantung

Namun, terdapat keterbatasan karena palpitasi bersifat subjektif dan tidak selalu berkaitan dengan penyakit jantung. Oleh karena itu, konfirmasi diagnosis tetap memerlukan pemeriksaan objektif.

Kesimpulan

Jantung berdebar saat istirahat dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari stres dan konsumsi kafein hingga gangguan irama jantung atau aritmia. Walaupun sebagian besar kasus bersifat ringan, palpitasi yang terjadi berulang atau disertai gejala lain seperti nyeri dada, sesak napas, atau pusing perlu mendapatkan evaluasi medis.

Deteksi dini aritmia sangat penting untuk mencegah komplikasi serius seperti stroke atau gagal jantung. Pemeriksaan seperti EKG, Holter monitor, dan echocardiography dapat membantu dokter menentukan penyebab palpitasi secara akurat.

Memahami gejala tubuh dan melakukan pemeriksaan jantung secara tepat waktu merupakan langkah penting dalam menjaga kesehatan kardiovaskular.

Jika Anda memiliki keluhan penyakit jantung, segera konsultasikan dengan tim dokter kami:
📞 +62 851 9003 7699
🔗 cardiacare.id

Referensi

Chugh, S. S., et al. (2014). Worldwide epidemiology of atrial fibrillation. Circulation, 129(8), 837–847.

Goldberger, A. L., et al. (2018). Clinical Electrocardiography: A Simplified Approach. Elsevier.

January, C. T., et al. (2019). 2019 AHA/ACC/HRS guideline for the management of patients with atrial fibrillation. Circulation, 140(2), e125–e151.

Libby, P., et al. (2019). Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. Elsevier.

Zimetbaum, P., & Josephson, M. (1998). Evaluation of patients with palpitations. New England Journal of Medicine, 338(19), 1369–1373.

Scroll to Top