Latar Belakang dan Urgensi
Keluhan pada kaki seperti pegal, bengkak, atau nyeri setelah duduk lama sering dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan. Namun, pada sebagian kasus, gejala tersebut dapat menjadi manifestasi awal deep vein thrombosis (DVT) — kondisi terbentuknya bekuan darah pada vena dalam, terutama di tungkai bawah.
DVT memiliki implikasi klinis serius karena bekuan darah dapat terlepas, terbawa aliran darah, dan menyumbat arteri pulmonalis sehingga menyebabkan emboli paru, suatu kondisi yang berpotensi fatal (Konstantinides et al., 2020). Secara global, penyakit tromboemboli vena (VTE: DVT + emboli paru) merupakan penyebab utama kematian kardiovaskular ketiga setelah infark miokard dan stroke (Raskob et al., 2014).
Mengingat gejala awalnya sering samar, deteksi dini menjadi krusial untuk mencegah komplikasi berat.
Definisi dan Konsep Dasar

Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah pembentukan trombus pada vena dalam, biasanya pada vena femoralis, poplitea, atau tibialis.
Emboli paru (pulmonary embolism/PE) terjadi ketika bagian trombus terlepas (embolus) dan menyumbat pembuluh darah paru, menyebabkan gangguan perfusi dan pertukaran gas (Kearon et al., 2016).
Kedua kondisi ini merupakan satu spektrum penyakit yang dikenal sebagai venous thromboembolism (VTE).
Mekanisme Terbentuknya Bekuan Darah
Terbentuknya trombus vena dijelaskan melalui Trias Virchow, yang meliputi:
- Stasis aliran darah
Terjadi saat seseorang duduk lama, imobilisasi pasca operasi, atau perjalanan jauh. Stasis menyebabkan aktivasi faktor koagulasi lokal (Heit, 2015). - Kerusakan dinding pembuluh darah
Trauma, operasi, atau inflamasi dapat merusak endotel, memicu agregasi trombosit dan pembentukan fibrin. - Hiperkoagulabilitas
Kondisi seperti kehamilan, kanker, terapi hormon, atau kelainan genetik meningkatkan kecenderungan darah membeku.
Ketika trombus terbentuk di vena kaki, sebagian fragmennya dapat terlepas dan bermigrasi ke paru melalui vena cava inferior dan jantung kanan, menyebabkan emboli paru (Goldhaber & Bounameaux, 2012).
Manifestasi Klinis
Gejala pada kaki (DVT)
- Bengkak unilateral
- Nyeri atau rasa berat di betis
- Kemerahan atau hangat pada kulit
- Vena superfisial tampak menonjol
Namun hingga 50% kasus DVT dapat tanpa gejala khas, sehingga sering terlewatkan (Kearon et al., 2016).
Gejala emboli paru
- Sesak napas mendadak
- Nyeri dada pleuritik
- Takikardia
- Sinkop pada kasus berat
Emboli paru masif dapat menyebabkan syok dan kematian mendadak.
Faktor Risiko Klinis
Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko DVT sesuai bukti epidemiologi meliputi:
- Imobilisasi atau duduk lama
- Pasca operasi, terutama ortopedi
- Riwayat DVT sebelumnya
- Kehamilan atau masa nifas
- Kanker aktif
- Obesitas
- Merokok
- Penggunaan kontrasepsi hormonal
Skor risiko seperti Wells Score sering digunakan untuk menilai probabilitas klinis DVT sebelum pemeriksaan lanjutan (Wells et al., 2003).
Diagnosis dan Metode Pemeriksaan
Pendekatan diagnosis berbasis evidence melibatkan:
1. D-dimer test
Digunakan sebagai skrining. Nilai normal dapat menyingkirkan DVT pada pasien risiko rendah.
2. Ultrasonografi Doppler vena
Merupakan standar awal diagnosis karena non-invasif dan memiliki sensitivitas tinggi untuk trombus proksimal (Kearon et al., 2016).
3. CT Pulmonary Angiography (CTPA)
Digunakan bila dicurigai emboli paru, menjadi modalitas utama saat ini.
Penanganan
Tujuan terapi adalah mencegah pembesaran trombus, embolisasi, dan kekambuhan.
Terapi utama meliputi:
- Antikoagulan (heparin, DOAC, atau warfarin)
- Trombolisis pada kasus berat
- Filter vena cava pada pasien kontraindikasi antikoagulan
Durasi terapi disesuaikan dengan faktor risiko dan kemungkinan kekambuhan (Konstantinides et al., 2020).
Keunggulan dan Keterbatasan Pendekatan Klinis Saat Ini
Keunggulan
- Ultrasonografi Doppler mudah diakses dan akurat
- Antikoagulan modern (DOAC) lebih aman dan praktis
- Skor klinis membantu menghindari pemeriksaan berlebih
Keterbatasan
- Gejala sering tidak spesifik
- D-dimer meningkat pada banyak kondisi lain
- Risiko perdarahan dari terapi antikoagulan
- DVT distal kadang sulit terdeteksi
Perbandingan dengan Pendekatan Lain
| Pendekatan | Keunggulan | Keterbatasan |
|---|---|---|
| USG Doppler | Non-invasif, cepat | Operator dependent |
| Venografi konvensional | Gold standard lama | Invasif, jarang digunakan |
| MRI venografi | Detail tinggi | Mahal, tidak selalu tersedia |
Saat ini USG Doppler tetap menjadi metode pilihan awal karena efisiensi dan keamanan.
Pencegahan
Pencegahan berbasis evidence meliputi:
- Mobilisasi dini pasca operasi
- Penggunaan stocking kompresi
- Profilaksis antikoagulan pada pasien risiko tinggi
- Edukasi untuk menghindari duduk terlalu lama
Pendekatan preventif terbukti menurunkan insiden VTE secara signifikan pada pasien rawat inap (Heit, 2015).
Kesimpulan
Bekuan darah di kaki bukan sekadar masalah lokal, melainkan kondisi yang dapat berkembang menjadi emboli paru yang mengancam jiwa. Karena gejalanya sering samar, kewaspadaan klinis dan pemeriksaan dini sangat penting, terutama pada individu dengan faktor risiko.
Pendekatan diagnosis berbasis skor klinis, D-dimer, dan ultrasonografi Doppler memungkinkan deteksi lebih cepat, sementara terapi antikoagulan modern meningkatkan keselamatan pasien. Edukasi masyarakat dan deteksi dini menjadi kunci untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat tromboemboli vena.
Referensi
Goldhaber, S. Z., & Bounameaux, H. (2012). Pulmonary embolism and deep vein thrombosis. The Lancet, 379(9828), 1835–1846.
Heit, J. A. (2015). Epidemiology of venous thromboembolism. Nature Reviews Cardiology, 12(8), 464–474.
Kearon, C., et al. (2016). Antithrombotic therapy for VTE disease. Chest, 149(2), 315–352.
Konstantinides, S. V., et al. (2020). ESC Guidelines for pulmonary embolism. European Heart Journal, 41(4), 543–603.
Raskob, G. E., et al. (2014). Thrombosis: a major contributor to global disease burden. The Lancet, 384(9940), 1160–1171.
Wells, P. S., et al. (2003). Evaluation of DVT probability score. The Lancet, 361(9361), 1349–1356.
Latar Belakang dan Urgensi Keluhan pada kaki seperti pegal, bengkak, atau nyeri setelah duduk lama sering dianggap sebagai masalah ringan akibat kelelahan. Namun, pada sebagian kasus, gejala tersebut dapat menjadi manifestasi awal deep vein thrombosis (DVT) — kondisi terbentuknya bekuan darah pada vena dalam, terutama di tungkai bawah. DVT memiliki implikasi klinis serius karena bekuan darah dapat terlepas, terbawa aliran darah, dan menyumbat arteri pulmonalis sehingga menyebabkan emboli paru, suatu kondisi yang berpotensi fatal (Konstantinides et al., 2020). Secara global, penyakit tromboemboli vena (VTE: DVT + emboli paru) merupakan penyebab utama kematian kardiovaskular ketiga setelah infark miokard dan stroke (Raskob et al., 2014). Mengingat gejala awalnya sering samar, deteksi dini menjadi krusial untuk mencegah komplikasi berat. Definisi dan Konsep Dasar Deep Vein Thrombosis (DVT) adalah pembentukan trombus pada vena dalam, biasanya pada vena femoralis, poplitea, atau tibialis. Emboli paru (pulmonary embolism/PE) terjadi ketika bagian trombus terlepas (embolus) dan menyumbat pembuluh darah paru, menyebabkan gangguan perfusi dan pertukaran gas (Kearon et al., 2016). Kedua kondisi ini merupakan satu spektrum penyakit yang dikenal sebagai venous thromboembolism (VTE). Mekanisme Terbentuknya Bekuan Darah Terbentuknya trombus vena dijelaskan melalui Trias Virchow, yang meliputi: Stasis aliran darah Terjadi saat seseorang duduk lama, imobilisasi pasca operasi, atau perjalanan jauh. Stasis menyebabkan aktivasi faktor koagulasi lokal (Heit, 2015). Kerusakan dinding pembuluh darah Trauma, operasi, atau inflamasi dapat merusak endotel, memicu agregasi trombosit dan pembentukan fibrin. Hiperkoagulabilitas Kondisi seperti kehamilan, kanker, terapi hormon, atau kelainan genetik meningkatkan kecenderungan darah membeku. Ketika trombus terbentuk di vena kaki, sebagian fragmennya dapat terlepas dan bermigrasi ke paru melalui vena cava inferior dan jantung kanan, menyebabkan emboli paru (Goldhaber & Bounameaux, 2012). Manifestasi Klinis Gejala pada kaki (DVT) Bengkak unilateral Nyeri atau rasa berat di betis Kemerahan atau hangat pada kulit Vena superfisial tampak menonjol Namun hingga 50% kasus DVT dapat tanpa gejala khas, sehingga sering terlewatkan (Kearon et al., 2016). Gejala emboli paru Sesak napas mendadak Nyeri dada pleuritik Takikardia Sinkop pada kasus berat Emboli paru masif dapat menyebabkan syok dan kematian mendadak. Faktor Risiko Klinis Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko DVT sesuai bukti epidemiologi meliputi: Imobilisasi atau duduk lama Pasca operasi, terutama ortopedi Riwayat DVT sebelumnya Kehamilan atau masa nifas Kanker aktif Obesitas Merokok Penggunaan kontrasepsi hormonal Skor risiko seperti Wells Score sering digunakan untuk menilai probabilitas klinis DVT sebelum pemeriksaan lanjutan (Wells et al., 2003). Diagnosis dan Metode Pemeriksaan Pendekatan diagnosis berbasis evidence melibatkan: 1. D-dimer test Digunakan sebagai skrining. Nilai normal dapat menyingkirkan DVT pada pasien risiko rendah. 2. Ultrasonografi Doppler vena Merupakan standar awal diagnosis karena non-invasif dan memiliki sensitivitas tinggi untuk trombus proksimal (Kearon et al., 2016). 3. CT Pulmonary Angiography (CTPA) Digunakan bila dicurigai emboli paru, menjadi modalitas utama saat ini. Penanganan Tujuan terapi adalah mencegah pembesaran trombus, embolisasi, dan kekambuhan. Terapi utama meliputi: Antikoagulan (heparin, DOAC, atau warfarin) Trombolisis pada kasus berat Filter vena cava pada pasien kontraindikasi antikoagulan Durasi terapi disesuaikan dengan faktor risiko dan kemungkinan kekambuhan (Konstantinides et al., 2020). Keunggulan dan Keterbatasan Pendekatan Klinis Saat Ini Keunggulan Ultrasonografi Doppler mudah diakses dan akurat Antikoagulan modern (DOAC) lebih aman dan praktis Skor klinis membantu menghindari pemeriksaan berlebih Keterbatasan Gejala sering tidak spesifik D-dimer meningkat pada banyak kondisi lain Risiko perdarahan dari terapi antikoagulan DVT distal kadang sulit terdeteksi Perbandingan dengan Pendekatan Lain Pendekatan Keunggulan Keterbatasan USG Doppler Non-invasif, cepat Operator dependent Venografi konvensional Gold standard lama Invasif, jarang digunakan MRI venografi Detail tinggi Mahal, tidak selalu tersedia Saat ini USG Doppler tetap menjadi metode pilihan awal karena efisiensi dan keamanan. Pencegahan Pencegahan berbasis evidence meliputi: Mobilisasi dini pasca operasi Penggunaan stocking kompresi Profilaksis antikoagulan pada pasien risiko tinggi Edukasi untuk menghindari duduk terlalu lama Pendekatan preventif terbukti menurunkan insiden VTE secara signifikan pada pasien rawat inap (Heit, 2015). Kesimpulan Bekuan darah di kaki bukan sekadar masalah lokal, melainkan kondisi yang dapat berkembang menjadi emboli paru yang mengancam jiwa. Karena gejalanya sering samar, kewaspadaan klinis dan pemeriksaan dini sangat penting, terutama pada individu dengan faktor risiko. Pendekatan diagnosis berbasis skor klinis, D-dimer, dan ultrasonografi Doppler memungkinkan deteksi lebih cepat, sementara terapi antikoagulan modern meningkatkan keselamatan pasien. Edukasi masyarakat dan deteksi dini menjadi kunci untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas akibat tromboemboli vena. Referensi Goldhaber, S. Z., & Bounameaux, H. (2012). Pulmonary embolism and deep vein thrombosis. The Lancet, 379(9828), 1835–1846. Heit, J. A. (2015). Epidemiology of venous thromboembolism. Nature Reviews Cardiology, 12(8), 464–474. Kearon, C., et al. (2016). Antithrombotic therapy for VTE disease. Chest, 149(2), 315–352. Konstantinides, S. V., et al. (2020). ESC Guidelines for pulmonary embolism. European Heart Journal, 41(4), 543–603. Raskob, G. E., et al. (2014). Thrombosis: a major contributor to global disease burden. The Lancet, 384(9940), 1160–1171. Wells, P. S., et al. (2003). Evaluation of DVT probability score. The Lancet, 361(9361), 1349–1356.



