Stent Bioresorbable dalam Terapi Penyakit Jantung Koroner: Inovasi yang Menjanjikan namun Masih Dievaluasi

Latar Belakang

Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi penyebab kematian utama secara global. Salah satu terapi utama untuk mengatasi penyempitan atau sumbatan arteri koroner adalah intervensi koroner perkutan (PCI) dengan pemasangan stent.

Selama dua dekade terakhir, drug-eluting stent (DES) berbahan logam telah menjadi standar terapi karena mampu menurunkan angka restenosis dan kejadian kardiovaskular berulang secara signifikan dibanding stent bare-metal (Stone et al., 2016).

Namun, stent logam bersifat permanen dan dapat memicu peradangan kronis, gangguan vasomotion, serta risiko trombosis jangka panjang. Untuk mengatasi keterbatasan ini, dikembangkan bioresorbable vascular scaffold (BVS) atau stent yang dapat terurai dalam tubuh. Teknologi ini bertujuan menopang pembuluh darah hanya selama fase penyembuhan awal, kemudian hilang seiring waktu.

Definisi dan Konsep Dasar

Stent bioresorbable adalah perangkat penopang pembuluh darah yang dibuat dari bahan polimer atau logam yang dapat terdegradasi secara biologis, seperti polylactic acid atau magnesium alloy.

Berbeda dengan DES permanen, BVS dirancang untuk:

  • Menjaga lumen pembuluh darah tetap terbuka pada fase awal
  • Melepaskan obat antiproliferatif untuk mencegah restenosis
  • Terurai secara bertahap dalam 2–3 tahun
  • Mengembalikan fungsi fisiologis pembuluh darah

Konsep ini dikenal sebagai “vascular restoration therapy”, yaitu pemulihan struktur dan fungsi alami arteri setelah proses penyembuhan selesai (Serruys et al., 2016).

Mekanisme Ilmiah dan Proses Penyembuhan

Pada pemasangan stent konvensional, struktur logam tetap berada dalam arteri secara permanen. Hal ini dapat mengganggu elastisitas dinding pembuluh darah dan respons vasodilatasi.

Pada stent bioresorbable, proses biologis berlangsung bertahap:

Fase awal (0–6 bulan)

  • Scaffold menopang dinding arteri
  • Obat antiproliferatif dilepas untuk mencegah hiperplasia intimal
  • Endotelisasi mulai terjadi

Fase degradasi (6–24 bulan)

  • Material scaffold terurai menjadi molekul kecil
  • Struktur penopang berkurang perlahan
  • Dinding pembuluh darah mulai mengambil alih fungsi mekanik

Fase restorasi (2–3 tahun)

  • Scaffold hampir hilang sepenuhnya
  • Pembuluh darah kembali memiliki vasomotion alami
  • Risiko komplikasi akibat benda asing permanen berkurang

Proses ini secara teoritis memungkinkan arteri kembali berfungsi secara fisiologis seperti sebelum pemasangan stent (Onuma & Serruys, 2011).

Keunggulan Potensial Stent Bioresorbable

Beberapa keuntungan yang diharapkan dari teknologi ini meliputi:

1. Tidak meninggalkan benda asing permanen

Hal ini dapat menurunkan risiko:

  • Inflamasi kronis
  • Neoaterosklerosis
  • Trombosis sangat terlambat

2. Pemulihan fungsi vasomotor alami

Setelah scaffold hilang, pembuluh darah dapat:

  • Berkontraksi
  • Berdilatasi sesuai kebutuhan fisiologis

3. Mempermudah tindakan di masa depan

Tanpa struktur logam permanen, prosedur ulang seperti bypass atau PCI ulang menjadi lebih fleksibel.

4. Potensi terapi jangka panjang yang lebih fisiologis

Konsep restorasi vaskular menjadi alasan utama pengembangan teknologi ini.

Keterbatasan dan Tantangan Klinis

Meskipun menjanjikan secara konsep, penggunaan BVS menghadapi beberapa kendala penting:

1. Risiko trombosis lebih tinggi pada generasi awal

Beberapa studi menunjukkan angka trombosis scaffold lebih tinggi dibanding DES modern, terutama jika teknik implantasi tidak optimal (Bangalore et al., 2017).

2. Profil scaffold lebih tebal

Dibanding DES, BVS memiliki strut lebih tebal sehingga:

  • Sulit dipasang pada lesi kompleks
  • Berpotensi meningkatkan turbulensi aliran

3. Bukti jangka panjang masih terbatas

Walaupun studi awal menunjukkan hasil yang baik, data jangka panjang masih terus dikumpulkan untuk menilai:

  • Ketahanan lumen
  • Angka reintervensi
  • Mortalitas kardiovaskular

Perbandingan Stent Logam vs Stent Bioresorbable

AspekDrug-Eluting Stent (Logam)Stent Bioresorbable
SifatPermanenTerurai bertahap
Bukti klinisSangat kuatMasih berkembang
Risiko restenosisRendahRendah (awal)
Risiko trombosis jangka panjangAdaTeoretis lebih rendah
Fungsi vasomotorTerbatasPotensi pulih
Penggunaan saat iniStandar terapiSelektif pada pasien tertentu

DES generasi terbaru tetap menjadi pilihan utama karena keamanan dan efektivitasnya sudah terbukti luas dalam uji klinis besar (Stone et al., 2016).

Peran Klinis Saat Ini

Saat ini, penggunaan stent bioresorbable masih selektif dan biasanya dipertimbangkan pada:

  • Pasien muda dengan harapan hidup panjang
  • Lesi sederhana
  • Pembuluh darah berdiameter cukup besar
  • Kondisi klinis stabil

Keputusan penggunaan harus mempertimbangkan:

  • Anatomi pembuluh
  • Risiko trombosis
  • Ketersediaan teknologi
  • Pengalaman operator

Pendekatan individualisasi terapi tetap menjadi prinsip utama dalam intervensi koroner modern.

Kesimpulan

Stent bioresorbable merupakan inovasi menarik dalam terapi penyakit jantung koroner karena menawarkan konsep pemulihan fungsi pembuluh darah tanpa meninggalkan benda asing permanen. Secara biologis, teknologi ini berpotensi memberikan hasil jangka panjang yang lebih fisiologis dibanding stent logam.

Namun, bukti klinis saat ini menunjukkan bahwa drug-eluting stent modern masih menjadi standar terapi karena keamanan dan efektivitasnya telah terbukti luas. Oleh karena itu, penggunaan stent bioresorbable masih harus dipilih secara selektif dan berbasis pertimbangan klinis individual serta perkembangan penelitian jangka panjang.

Referensi

Bangalore, S., et al. (2017). Outcomes with bioresorbable vascular scaffolds versus drug-eluting stents. Circulation, 136(3), 241–251.

Onuma, Y., & Serruys, P. W. (2011). Bioresorbable scaffold: the advent of vascular restoration therapy. Lancet, 378(9792), 122–124.

Serruys, P. W., et al. (2016). A bioresorbable scaffold versus metallic stent in coronary artery disease. New England Journal of Medicine, 373(20), 1905–1915.

Stone, G. W., et al. (2016). Everolimus-eluting stents in coronary artery disease. New England Journal of Medicine, 374(20), 1938–1947.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top