Stroke: Kondisi Gawat Darurat Medis yang Tidak Boleh Ditunda

Stroke adalah kondisi gawat darurat medis yang membutuhkan diagnosis dan penanganan secepat mungkin. Keterlambatan datang ke fasilitas kesehatan dapat meningkatkan risiko kerusakan otak permanen, kecacatan jangka panjang, bahkan kematian. Prinsip yang berlaku dalam tata laksana stroke sangat jelas: “time is brain.”

Menurut data global, stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan disabilitas di dunia (Feigin et al., 2021). Setiap menit keterlambatan pada stroke iskemik akut dapat menyebabkan hilangnya sekitar 1,9 juta neuron (Saver, 2006). Artinya, keputusan cepat dan pemeriksaan yang tepat sangat menentukan kualitas hidup pasien di masa depan.

Definisi dan Jenis Stroke

Secara umum, stroke dibagi menjadi dua jenis utama:

1. Stroke Hemoragik (Perdarahan Otak)

Terjadi akibat pecahnya pembuluh darah di otak sehingga darah keluar dan merusak jaringan otak sekitarnya.

2. Stroke Iskemik (Sumbatan Pembuluh Darah Otak)

Terjadi akibat penyumbatan arteri otak oleh bekuan darah (trombus atau embolus), sehingga aliran darah dan oksigen ke jaringan otak terhenti.

Stroke iskemik merupakan tipe yang paling sering terjadi, mencakup sekitar 70–85% kasus (Powers et al., 2019).

Meskipun gejala awal kedua jenis stroke dapat tampak serupa—seperti kelemahan mendadak pada satu sisi tubuh, bicara pelo, atau penurunan kesadaran—penanganannya sangat berbeda. Oleh karena itu, pencitraan otak menjadi langkah krusial sebelum terapi diberikan.

Golden Period: Mengapa Waktu Sangat Penting?

Dalam konteks stroke, dikenal istilah golden period, yaitu waktu kritis sejak onset gejala hingga beberapa jam pertama.

Pada Stroke Iskemik:

  • Terapi trombolitik intravena idealnya diberikan dalam ≤4,5 jam dari onset (Powers et al., 2019).
  • Trombektomi mekanik pada kasus oklusi pembuluh besar dapat dilakukan hingga 6–24 jam pada pasien terpilih dengan kriteria imaging tertentu (Albers et al., 2018).

Selama periode ini, sebagian jaringan otak yang disebut ischemic penumbra masih dapat diselamatkan. Area ini belum mati sepenuhnya dan masih memiliki potensi pemulihan jika aliran darah dipulihkan segera.

Semakin cepat diagnosis ditegakkan, semakin besar peluang jaringan otak terselamatkan dan semakin kecil risiko kecacatan permanen.

Peran Pencitraan Otak: CT Scan vs MRI

Mengapa Imaging Sangat Penting?

Karena terapi stroke berbeda tergantung jenisnya, dokter harus memastikan apakah pasien mengalami stroke hemoragik atau iskemik sebelum memberikan terapi seperti trombolitik. Memberikan obat pelarut bekuan pada stroke perdarahan dapat berakibat fatal.

Di sinilah peran CT Scan otak dan MRI otak menjadi krusial.

CT Scan Otak: Cepat dan Efektif untuk Perdarahan

Keunggulan CT Scan:

  • Cepat (beberapa menit)
  • Tersedia luas di banyak rumah sakit
  • Sensitif mendeteksi perdarahan akut
  • Ideal sebagai pemeriksaan awal di IGD

CT Scan sangat efektif dalam mengidentifikasi stroke hemoragik pada fase akut (Powers et al., 2019). Oleh karena itu, dalam banyak protokol emergensi, CT Scan non-kontras menjadi pemeriksaan pertama pada pasien dengan kecurigaan stroke.

Keterbatasan CT Scan:

  • Sensitivitas lebih rendah untuk stroke iskemik sangat dini
  • Perubahan iskemik awal kadang belum terlihat dalam beberapa jam pertama

MRI Otak: Deteksi Dini Stroke Iskemik

MRI, terutama dengan teknik Diffusion-Weighted Imaging (DWI), sangat sensitif mendeteksi perubahan iskemik dalam menit hingga jam pertama setelah onset (Lansberg et al., 2000).

Keunggulan MRI:

  • Sensitivitas tinggi untuk stroke iskemik dini
  • Mampu membedakan jaringan inti infark dan penumbra
  • Dapat mengevaluasi pembuluh darah (MRA) tanpa kontras pada kasus tertentu
  • Memberikan informasi lebih detail mengenai luas dan lokasi lesi

MRI sangat membantu dalam:

  • Menentukan kandidat terapi reperfusi
  • Menilai viabilitas jaringan otak
  • Menentukan prognosis

Keterbatasan MRI:

  • Tidak selalu tersedia 24 jam di semua fasilitas
  • Waktu pemeriksaan lebih lama dibanding CT
  • Tidak semua pasien dapat menjalani MRI (misalnya dengan implan tertentu)

Perbandingan Singkat CT Scan dan MRI

AspekCT ScanMRI
Deteksi perdarahan akutSangat baikBaik
Deteksi iskemik diniTerbatasSangat sensitif
Waktu pemeriksaanCepatLebih lama
KetersediaanLebih luasTerbatas di beberapa RS
Evaluasi penumbraTerbatasLebih optimal

Pendekatan modern sering menggunakan CT sebagai skrining awal, kemudian MRI pada kasus tertentu untuk evaluasi lanjutan yang lebih detail.

Mekanisme Kerusakan Otak pada Stroke

Pada stroke iskemik, penyumbatan arteri menyebabkan:

  1. Penurunan suplai oksigen dan glukosa.
  2. Gangguan metabolisme seluler.
  3. Kegagalan pompa ion sel.
  4. Edema sitotoksik.
  5. Kematian sel neuron.

Proses ini terjadi progresif. Area inti infark akan mati lebih cepat, sedangkan penumbra masih memiliki aliran darah minimal dan dapat diselamatkan jika reperfusi dilakukan segera (Saver, 2006).

Pada stroke hemoragik, kerusakan terjadi akibat:

  • Tekanan massa hematoma
  • Toksisitas darah pada jaringan otak
  • Peningkatan tekanan intrakranial

Kedua mekanisme ini menegaskan pentingnya diagnosis cepat dan akurat.

Konsekuensi Datang Terlambat

Keterlambatan ke fasilitas kesehatan dapat menyebabkan:

  • Hilangnya kesempatan terapi trombolitik
  • Luas infark lebih besar
  • Risiko kecacatan permanen meningkat
  • Peluang pemulihan menurun
  • Mortalitas lebih tinggi

Studi menunjukkan bahwa setiap 15 menit percepatan pemberian terapi reperfusi berhubungan dengan outcome fungsional yang lebih baik (Saver et al., 2013).

Kesimpulan

Stroke adalah kondisi gawat darurat medis yang tidak boleh ditunda. Gejalanya mungkin terlihat mirip, tetapi penyebab dan terapinya berbeda secara fundamental.

Pencitraan otak—baik CT Scan maupun MRI—memegang peran sentral dalam menentukan jenis stroke dan memilih terapi yang tepat. CT Scan unggul dalam deteksi cepat perdarahan, sementara MRI sangat sensitif dalam mendeteksi stroke iskemik dini dan menilai jaringan otak yang masih dapat diselamatkan.

Prinsip golden period menegaskan bahwa semakin cepat pasien diperiksa dan ditangani, semakin besar peluang pemulihan dengan kualitas hidup yang lebih baik.

Dalam kasus stroke, setiap menit berarti.

Referensi

Albers, G. W., et al. (2018). Thrombectomy for stroke at 6 to 16 hours with selection by perfusion imaging. New England Journal of Medicine, 378(8), 708–718.

Feigin, V. L., et al. (2021). Global burden of stroke and risk factors. The Lancet Neurology, 20(10), 795–820.

Lansberg, M. G., et al. (2000). Diffusion-weighted MRI in acute stroke. Neurology, 54(8), 1557–1563.

Powers, W. J., et al. (2019). 2019 Guidelines for the early management of acute ischemic stroke. Stroke, 50(12), e344–e418.

Saver, J. L. (2006). Time is brain—quantified. Stroke, 37(1), 263–266.

Saver, J. L., et al. (2013). Time to treatment with intravenous alteplase and outcome from acute ischemic stroke. JAMA, 309(23), 2480–2488.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top