Penyakit jantung koroner merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Kondisi ini terjadi ketika pembuluh darah koroner yang menyuplai darah ke otot jantung mengalami penyempitan akibat penumpukan plak aterosklerosis. Jika penyempitan semakin berat, aliran darah ke jantung akan terganggu dan dapat memicu nyeri dada (angina) hingga serangan jantung.
Salah satu metode terapi yang sering digunakan untuk mengatasi penyempitan pembuluh darah koroner adalah prosedur pemasangan ring jantung atau coronary stent melalui teknik Percutaneous Coronary Intervention (PCI). Prosedur ini bertujuan membuka kembali pembuluh darah yang tersumbat sehingga aliran darah ke jantung dapat kembali normal.
Artikel ini membahas secara komprehensif mengenai prosedur pasang ring jantung, termasuk mekanisme tindakan, manfaat klinis, risiko yang mungkin terjadi, serta estimasi biaya terkini pada tahun 2026.
Menurut laporan World Health Organization, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 17,9 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia (WHO, 2023). Sebagian besar kematian tersebut disebabkan oleh penyakit jantung koroner, yang ditandai oleh penyempitan atau penyumbatan arteri koroner akibat plak kolesterol.
Ketika penyempitan pembuluh darah menjadi signifikan, aliran darah ke otot jantung berkurang sehingga menyebabkan iskemia miokard. Kondisi ini dapat memicu nyeri dada dan berpotensi berkembang menjadi infark miokard (serangan jantung) jika tidak ditangani dengan cepat (Libby et al., 2019).
Prosedur pemasangan stent koroner menjadi salah satu terapi intervensi yang paling banyak digunakan untuk mengatasi penyempitan tersebut secara minimal invasif.
Apa Itu Ring Jantung atau Stent Koroner
Ring jantung atau stent koroner adalah tabung kecil berbentuk jaring logam yang ditempatkan di dalam arteri koroner untuk menjaga pembuluh darah tetap terbuka.
Stent biasanya dipasang melalui prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI) yang dilakukan dengan bantuan kateter.
Jenis stent yang umum digunakan antara lain:
- Bare Metal Stent (BMS)
Stent logam tanpa lapisan obat. - Drug-Eluting Stent (DES)
Stent yang dilapisi obat untuk mencegah penyempitan ulang pembuluh darah.
Saat ini, Drug-Eluting Stent lebih banyak digunakan karena memiliki tingkat restenosis yang lebih rendah dibandingkan stent generasi lama (Neumann et al., 2019).
Mekanisme Ilmiah Penyempitan Pembuluh Koroner
Penyempitan arteri koroner terjadi akibat proses aterosklerosis, yaitu penumpukan plak yang terdiri dari:
- Kolesterol
- Sel inflamasi
- Jaringan fibrotik
- Kalsium
Proses ini menyebabkan lumen pembuluh darah menyempit sehingga aliran darah ke otot jantung berkurang.
Ketika kebutuhan oksigen jantung meningkat—misalnya saat aktivitas fisik—aliran darah tidak mampu mencukupi kebutuhan tersebut sehingga timbul angina pectoris.
Jika plak pecah dan membentuk bekuan darah (trombus), pembuluh darah dapat tersumbat total dan menyebabkan serangan jantung (Libby et al., 2019).
Prosedur Pasang Ring Jantung
Pemasangan ring jantung dilakukan di ruang cathlab (catheterization laboratory) oleh dokter spesialis jantung intervensi.
Prosedur ini umumnya berlangsung sekitar 30–90 menit.
Tahapan prosedur meliputi:
1. Persiapan Pasien
Pasien biasanya menjalani beberapa pemeriksaan sebelum tindakan, seperti:
- Elektrokardiogram (EKG)
- Tes darah
- Echocardiography
- Angiografi koroner
Obat pengencer darah juga diberikan untuk mencegah pembentukan trombus.
2. Akses Pembuluh Darah
Dokter akan memasukkan kateter melalui pembuluh darah di:
- Pergelangan tangan (arteri radial), atau
- Pangkal paha (arteri femoralis).
Kateter kemudian diarahkan menuju arteri koroner dengan bantuan pencitraan sinar-X.
3. Balon Angioplasti
Balon kecil yang berada di ujung kateter akan dikembangkan pada area penyempitan untuk membuka pembuluh darah.
Proses ini disebut balloon angioplasty.
4. Pemasangan Stent
Setelah pembuluh darah terbuka, stent ditempatkan pada lokasi penyempitan untuk menjaga pembuluh tetap terbuka secara permanen.
Balon kemudian dikempiskan dan kateter dikeluarkan.
Manfaat Pemasangan Ring Jantung
Prosedur PCI dengan pemasangan stent memiliki beberapa manfaat klinis yang signifikan.
Manfaat utama meliputi:
- Memperbaiki aliran darah ke otot jantung
- Mengurangi nyeri dada (angina)
- Meningkatkan kemampuan aktivitas fisik
- Mengurangi risiko serangan jantung pada kondisi tertentu
- Prosedur minimal invasif dengan waktu pemulihan relatif cepat
Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan Drug-Eluting Stent secara signifikan menurunkan risiko penyempitan ulang pembuluh darah dibandingkan stent konvensional (Neumann et al., 2019).
Risiko dan Komplikasi yang Mungkin Terjadi
Meskipun relatif aman, prosedur ini tetap memiliki beberapa risiko.
Komplikasi yang mungkin terjadi antara lain:
- Perdarahan di lokasi pemasangan kateter
- Reaksi alergi terhadap zat kontras
- Pembentukan trombus pada stent
- Penyempitan ulang pembuluh darah (restenosis)
- Serangan jantung atau stroke (jarang)
Risiko ini umumnya rendah apabila prosedur dilakukan oleh tim medis yang berpengalaman.
Perbandingan dengan Metode Terapi Lain
Selain pemasangan stent, terdapat beberapa metode lain dalam penanganan penyakit jantung koroner.
| Metode | Karakteristik |
|---|---|
| Terapi obat | Digunakan pada penyempitan ringan |
| PCI dengan stent | Minimal invasif, pemulihan cepat |
| CABG (operasi bypass jantung) | Digunakan pada penyumbatan kompleks |
Operasi bypass biasanya dipilih jika terdapat penyumbatan pada banyak pembuluh darah atau lokasi yang sulit ditangani dengan stent (Neumann et al., 2019).
Estimasi Biaya Pasang Ring Jantung Tahun 2026
Biaya pemasangan ring jantung dapat bervariasi tergantung beberapa faktor, seperti:
- Jenis stent yang digunakan
- Jumlah stent yang dipasang
- Rumah sakit atau fasilitas kesehatan
- Kondisi klinis pasien
Secara umum di Indonesia, estimasi biaya tahun 2026 adalah:
| Jenis Layanan | Estimasi Biaya |
|---|---|
| Pasang 1 ring jantung | Rp60 juta – Rp120 juta |
| Pasang 2–3 ring | Rp120 juta – Rp250 juta |
| Drug-Eluting Stent premium | Bisa lebih dari Rp300 juta |
Biaya tersebut dapat berbeda di setiap rumah sakit atau klinik, serta mungkin ditanggung oleh asuransi kesehatan atau BPJS dalam kondisi tertentu.
Kesimpulan
Pemasangan ring jantung melalui prosedur Percutaneous Coronary Intervention (PCI) merupakan terapi intervensi yang efektif untuk mengatasi penyempitan arteri koroner. Prosedur ini bekerja dengan membuka pembuluh darah yang tersumbat dan menempatkan stent untuk menjaga aliran darah tetap lancar.
Dibandingkan dengan operasi bypass, prosedur ini bersifat minimal invasif dan memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat. Meskipun demikian, prosedur ini tetap memiliki risiko yang perlu dipertimbangkan secara klinis.
Deteksi dini penyakit jantung koroner dan konsultasi dengan dokter spesialis jantung sangat penting untuk menentukan apakah pemasangan stent merupakan pilihan terapi yang tepat.
Jika Anda memiliki keluhan penyakit jantung, segera konsultasikan dengan tim dokter kami:
📞 +62 851 9003 7699
🔗 cardiacare.id
Referensi
Libby, P., et al. (2019). Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. Elsevier.
Neumann, F. J., et al. (2019). 2018 ESC/EACTS Guidelines on myocardial revascularization. European Heart Journal, 40(2), 87–165.
Stone, G. W., et al. (2016). Percutaneous coronary intervention versus coronary artery bypass grafting. New England Journal of Medicine, 375(23), 2223–2235.
World Health Organization. (2023). Cardiovascular diseases (CVDs) fact sheet.




